Eyang

Eyang. Beliaulah orang pertama yang saya panggil ‘eyang’, sosok yang hingga hari ini, saya belajar banyak dari beliau. Uniknya, hubungan saya dengan Eyang diawali sebagai penyewa kamar kost dengan pemiliknya. Eyang mengubah garasi samping rumahnya menjadi kost-kostan, agar tidak sepi dan ada teman, katanya. September 2013, karena kantor saya jauh dengan kostan saya (sewaktu kuliah), di Depok, maka saya memutuskan untuk mencari kostan lain yang lebih dekat dengan kantor, dan sampailah saya di rumah Eyang.

Pertama kali melihat rumah eyang, saya langsung ‘jatuh cinta’ dengan rumah itu. Bentuknya yang sederhana, rapi, bersih, dan resik, ya, memang sangat menggambarkan sosok Eyang. Singkat cerita, saya pun memutuskan untuk nge-kost di tempat Eyang. Pertengahan September 2013, saya masuk di sana. Karena kamar saya di bawah, maka interaksi dengan Eyang pun lebih banyak. Kami selalu sarapan dan makan malam bersama, saling membantu, memberi perhatian, dan menjaga satu sama lain.

Sempat saya pergi ‘meninggalkan’ Eyang selama sekitar 1 tahun 4 bulan untuk pergi ke daerah, dan perpisahan itu pun cukup mengharukan bagi kami berdua. Tak jarang Eyang selalu meng-SMS saya ketika saya di sana. Februari 2016 kemarin, saya pun kembali ke Jakarta, dan Eyang pun masuk ke dalam daftar orang-orang yang harus saya kunjungi. Saya kembali bekerja di Jakarta, dan kembali nge-kost bersama Eyang.

Saya merasa beruntung karena mempunyai sosok Eyang, sosok yang sudah seperti menjadi keluarga sendiri. Saya banyak belajar dari beliau. Eyang memang sudah tergolong sepuh, tetapi memiliki semangat yang sangat luar biasa di setiap harinya. Eyang sangat rajin beribadah, sholat 5 waktu, dan tak lupa untuk menjalankan puasa Sunnah setiap hari Senin dan Kamis. Eyang sangat-sangat tapi dan apik, segala sesuatu dicatat dan diberi tanda, sehingga eyang akan ingat selalu. Pernah saya melihat, di belakang kulkas atau mesin cuci, diberi tanda tanggal kapan kulas atau mesin cuci itu dibeli. Ya, sehingga ketika melihat tanggal itu lagi, memori-memori yang pernah ada, kembali ter-recall.

Setiap hari, Eyang mengisi harinya dengan ikut pengajian di masjid-masjid langganannya, bukan hanya masjid yang dekat dengan kostan (rumah Eyang), tetapi juga masjid-masjid lainnya. Pernah suatu kali Eyang sangat kelelahan karena satu hari penuh mengikuti pengajian, beliau bercerita, “Sebenernya cape Neng (red: panggilan Eyang untuk saya), apalagi kalau tempatnya jauh-jauh. Tapi mau bagaimana lagi, Eyang kan sudah sepuh, jadi Eyang harus tetap banyak bergerak dan berpikir, supaya ga cepat lupa”. Wejangan unik dari Eyang. Ya, tapi memang benar, daripada berdiam diri (padahal masih ada banyak hal yang bisa dikerjakan), lebih baik bergerak saja.

Ah, saya merasa beruntung bisa bertemu dan mengenal Eyang. Pasti pertemuan ini sudah digariskan oleh Yang Di Atas. Terima kasih 🙂

Tulisan ini ditulis sebagai rasa hormat dan sayang saya kepada Eyang. Eyang, semoga selalu sehat ya!

Sajak tentang Berdamai

Suatu memori atau kenangan yang membuat kita sedih, bukan untuk dilupakan, tetapi kita harus berdamai dengan memori-memori itu. 

Inilah sajak itu, sajak tentang berdamai akan memori-memori yang pernah terukir.

Ketika seseorang yang sungguh berarti dalam hatimu pergi, bukan karena sudah tidak mempunyai rasa lagi, tetapi karena keadaan yang mengharuskannya, apa yang bisa kita lakukan? 

Ketika seseorang yang selalu membuatmu tersenyum setiap kali kau mengingatnya, tidak lagi ada bersamamu saat ini, apa yang bisa kita lakukan? 

Ketika seseorang yang selalu menggenggammu dengan erat, tidak lagi kau rasakan genggamannya, apa yang bisa kita lakukan?

Ketika seseorang yang sungguh kamu sayangi, tak lagi ada di sampingmu, bukan karena dia tak lagi menyayangimu, tapi karena kita tidak bisa bersama, apa yang bisa kita lakukan? 

Ya, jawabannya adalah berdamai. Hanya itulah yang bisa kita lakukan.

Berdamai dengan segala hal mengenai seseorang itu. Berdamai akan memori-memori yang pernah ada. Berdamai, bukan melupakan. Berdamai, bukan menghapus. Berdamai, bukan membenci. Berdamai, ya, berdamai itu merelakan.

Mungkin tidak akan mudah untuk berdamai, butuh waktu. Butuh waktu yang tidak sebentar. Bisa satu bulan, setengah tahun, satu tahun, atau lebih dari itu.

Dan karenanya, aku akan berdamai hingga batas waktu yang tidak ditentukan. 

Itulah sebuah sajak tentang berdamai.

Agustus 2016

Sebuah Novel: Athirah

Athirah adalah novel pertama yang selesai saya baca di tahun ini. Mengapa saya tertarik untuk membeli dan membaca novel ini?

Pertama, ketika saya membaca sinopsisnya di cover belakang novel ini, saya menjadi penasaran tentang perjalanan hidup seorang Athirah, yang biasa dipanggil ‘Emma’ oleh anak-anaknya. Kedua, penulisnya adalah ‘Alberthiene Endah’ yang merupakan seorang penulis biografi, dan saya pernah juga membaca novelnya yang berjudul ‘Laki-laki dari Tidore’ dan saya langsung jatuh cinta pada gaya bahasanya. Ketiga, karena judul novel ini yang sederhana.


Buku ini saya beli di bulan Oktober tahun 2016 yang lalu, tapi karena satu dan lain hal baru selesai dibaca hari ini hehe.

Ketika mulai membaca, yang membuat saya lebih tertarik lagi adalah karena setting lokasi dari cerita pada novel itu: Makassar, Pantai Losari, UMI, dan lainnya yang membuat saya kembali membayangkan lokasi-lokasi tersebut ketika saya pernah ada disana. Nostalgia rasanya. Dan saya baru tersadar bahwa yang diceritakan pada novel itu adalah ibunda dari Bapak Jusuf Kalla.

Menurut saya, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Banyak hal atau kejadian-kejadian yang dapat kita resapi dan kita ambil pelajarannya. Tentang bagaimana kita bersikap adil untuk membawa kedamaian, tentang bagaimana menjadi ikhlas dan sabar, tentang arti berjuang, dan tentang bahwa pasti ada hikmah di balik semua kejadian itu.

Sabar merupakan kunci dari kebertahanan manusia melewati guncangan-guncangan di dalam hidup

Refleksi Perjalanan di Tahun 2016

Tahun ini adalah tahun aku pulang dari penempatanku mengabdi selama satu tahun di Majene, Sulawesi Barat. Semenjak perjalananku selama satu tahun itu, aku menyadari bahwa Indonesia itu begitu luas dan sangat beragam untuk dinikmati setiap jengkal bagiannya.

Di tahun ini, saya berkeliling ke tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya atau tempat-tempat yang pernah saya kunjungi untuk menikmatinya kembali. Ya, saya berkeliling, salah satunya adalah untuk bersilaturahmi.

Perjalanan pertama di tahun 2016 ini yaitu pada bulan Februari. Saya bersama teman-teman kuliah pergi ke Medan, tepatnya ke Kabanjahe. Kabanjahe adalah tempat kelahiran salah satu teman baik kuliah saya, Ave namanya. Ya, inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di Pulau Sumatera. Di sana, kami bersilaturahmi dengan keluarga Ave. Keceriaan dan kehangatan pun menyambut kedatangan kami disana. Kami pergi mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Air Terjun Sipiso piso, Danau Toba, Bukit Gundaling, dan lainnya.

Di Bulan Maret (12-13 Maret 2016), saya pergi ke Malang dan Batu. Naik kereta selama kurang lebih sekitar 10 jam, sendirian. Perjalanan ini pun saya nikmati dengan senang hati, karena lagi-lagi tujuannya adalah silaturahmi. Ya, saya ke sana untuk bertemu teman saya, Ebi, sekaligus melihat penampilan dari anak-anak asuhan komunitas Save Street Child Malang (yang mana komunitas ini adalah komunitas teman saya itu ketika kuliah dulu). Sedikit cerita, Ebi adalah teman sepenempatan, yang bisa dibilang teman seperjuangan, waktu dulu di Majene.

Ketika itu, saya diajak berkeliling di Malang, melihat tatanan kota Malang. Yang paling saya suka adalah tatanan tamannya. Di Malang, cukup banyak taman yang nyaman yang bisa digunakan sebagai tempat untuk berkegiatan. Selain di Malang, saya juga diajak pergi ke Batu, sangat dingin di Batu. Waktu itu, saya diajak pergi ke Bukit Banyak, tempat sejuk dan tinggi dimana kita bisa melihat Kota Batu dan Malang dari atas. Perjalanan ke Malang pun menjadi perjalanan yang menarik, karena selama perjalanan di kereta, saya berkenalan dengan teman baru (yang hingga saat ini masih berkomunikasi). Mereka adalah mahasiswa UNJ jurusan seni tari yang juga sedang pulang untuk melakukan riset di kampung halamannya, Malang untuk tugas kuliah mereka.

Selanjutnya, di Bulan Mei dan November, saya pergi ke Purwakarta. Purwakarta pun menjadi salah satu tempat ‘bersejarah’ bagi saya karena di situlah selama 2 bulan, saya mendapatkan pelatihan sebelum mengabdi selama satu tahun (bersama 51 orang lainnya). Di Purwakarta juga, saya menemukan anak-anak kecil di sekitar tempat pelatihan yang sangat suka jika diajak belajar sambil bermain, Wulan, Alif, Haikal, dan yang lainnya. Waktu itu saya ke Purwakarta karena memang sedang ada camp pelatihan intensif Pengajar Muda untuk angkatan selanjutnya. Saya datang ke sana, untuk menjadi assessor (mengisi sesi), sekaligus untuk melihat perkembangan anak-anak tersebut. Baca lebih lanjut