Merajut Mimpi Seindah Pelangi

Ini adalah kali pertamanya saya mengikuti kelas inspirasi di luar Pulau Jawa dan sangat jauh dari tempat tinggal saya. Memang sebelumnya saya pernah mengikuti Kelas Inspirasi yang bukan di Pulau Jaea, tetapi pada saat itu saya memang sedang tinggal disana. Kali ini saya mengikuti Kelas Inspirasi Belitung. Kenapa saya ikut KI ini? Selain karena saya sedang kangen untuk mengajar anak-anak di daerag, saya juga sangat tertarik dengan Belitung, yang notabene katanya adalah Negeri Laskar Pelangi.

Yang paling saya senangi jika sedang berada di daerag adalah kearifan lokalnya yang sangat sangat ‘Indonesia’; orang-orang yang sangat baik, ramah, dan suka menolong, dan semua terasa lebih pelan-tidak terburu-buru, dan terlebih lagi ditambah keindahan alam yang masih sangat asri, yang sangat berbeda dengan keadaan di perkotaan.

wp-1494738144736.

Kelas Inspirasi Belitung tahun 2017 ini merupakan kelas inspirasi Belitung yang pertama, dan diadakan di Kecamatan Membalong. Saya mendapatkan kelompok di sekolah SDN 17 Membalong Desa Tanjung Rusa, dengan kepala sekolah bernama Ibu Asnarni.

Rasanya seperti dejavu, mengulang kembali yang pernah dialami ketika penempatan dulu di Majene, Sulawesi Barat. Bertemu dengan kepala sekolah, anak-anak yang akan diajar, dan para stakeholder lainnya; pak lurah, kepala dusun, dan pemuda-pemudi karang taruna. Di malam sebelum kami akan melaksanakan kegiatan kelas inspirasi esok harinya, kami berkumpul dengan para stakeholder tersebut, saling bertukar pikiran, dan bertukar semangat positif. Mati lampu pun sempat mewarnai pertemuan itu, tapi kami tetap melanjutkan pertemuan tersebut. Baca lebih lanjut

Ternyata KI, Mempertemukan Orang-orang Baik

Apa sih KI itu? Mungkin bagi orang-orang yang terjun di dunia kerelawanan di bidang pendidikan pernah mendengar “KI”. Ya, KI adalah singkatan dari Kelas Inspirasi, dimana para profesional bersedia untuk mengambil cuti satu hari untuk memperkenalkan profesinya dan memotivasi siswa-siswi SD agar lebih semangat dalam menggapai cita-citanya.

“Dek, yuk bikin lagi yang ke-2”. Itulah ajakan teman SMA saya, Jaka, ketika kami akhirnya ketemu setelah masing-masing saling merantau. Nah, dari ajakan itulah kami memulainya, untuk sama-sama mengemas KI Cirebon #2 (yang pertama ada di tahun 2015). Kami mulai kembali menggaet para relawan yang tahun lalu aktif di KI Cirebon #1 untuk membentuk panitia kecil untuk merekrut relawan panitia yang lain. Luar biasanya, setelah kami mulai membuka pendaftaran relawan panitia, yang mendaftar itu lebih dari 100 orang. Antusiasme yang sangat luar biasa!

Jika kembali melihat ke belakang, KI Cirebon yang pertama, memang bertujuan untuk meningkatkan awareness masyarakat Cirebon tentang KI, karena memang di Cirebon belum pernah ada KI sehingga pemahaman tentang KI-nya masih sedikit. Kemudian, yang kedua ini mempunyai cita-cita yang lebih luas lagi. Kami memantapkan hati bersama, bahwa harapannya dengan KI yang kedua ini di Cirebon, bisa membuka jejaring yang lebih luas antar para relawan, sehingga nantinya bisa ada interaksi-interakhir lain untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya.

Kami memulainya di bulan Februari 2016, diawali dengan perekrutan relawan panitia hingga pelaksanaan pada bulan Agustus dan dilanjutkan dengan adanya BTS (back to school) di Bulan September-Oktober

“Karena hasil tak akan mengingkari usaha”. Ya, itulah yang saya rasakan. Dari perjalanan panjang yang kami lalui bersama, mulai dari proses mempersiapkan kelas inspirasi, Hari H, hingga back to school, kami selalu menekankan pada nilai siap belajar dan kekeluargaan. Dan semuanya pun berjalan dengan lancar.

Dari sinilah saya melihat, walaupun ketika di awal  kita sama sekali tidak mengenal satu sama lain, tetapi ketika kita semua saling percaya, mempunyai tujuan yang sama dan selalu siap untuk belajar, maka segala sesuatu nya akan berjalan dengan baik. Ya memang, ternyata KI itu mempertemukan orang-orang baik. 🙂

Eyang

Eyang. Beliaulah orang pertama yang saya panggil ‘eyang’, sosok yang hingga hari ini, saya belajar banyak dari beliau. Uniknya, hubungan saya dengan Eyang diawali sebagai penyewa kamar kost dengan pemiliknya. Eyang mengubah garasi samping rumahnya menjadi kost-kostan, agar tidak sepi dan ada teman, katanya. September 2013, karena kantor saya jauh dengan kostan saya (sewaktu kuliah), di Depok, maka saya memutuskan untuk mencari kostan lain yang lebih dekat dengan kantor, dan sampailah saya di rumah Eyang.

Pertama kali melihat rumah eyang, saya langsung ‘jatuh cinta’ dengan rumah itu. Bentuknya yang sederhana, rapi, bersih, dan resik, ya, memang sangat menggambarkan sosok Eyang. Singkat cerita, saya pun memutuskan untuk nge-kost di tempat Eyang. Pertengahan September 2013, saya masuk di sana. Karena kamar saya di bawah, maka interaksi dengan Eyang pun lebih banyak. Kami selalu sarapan dan makan malam bersama, saling membantu, memberi perhatian, dan menjaga satu sama lain.

Sempat saya pergi ‘meninggalkan’ Eyang selama sekitar 1 tahun 4 bulan untuk pergi ke daerah, dan perpisahan itu pun cukup mengharukan bagi kami berdua. Tak jarang Eyang selalu meng-SMS saya ketika saya di sana. Februari 2016 kemarin, saya pun kembali ke Jakarta, dan Eyang pun masuk ke dalam daftar orang-orang yang harus saya kunjungi. Saya kembali bekerja di Jakarta, dan kembali nge-kost bersama Eyang.

Saya merasa beruntung karena mempunyai sosok Eyang, sosok yang sudah seperti menjadi keluarga sendiri. Saya banyak belajar dari beliau. Eyang memang sudah tergolong sepuh, tetapi memiliki semangat yang sangat luar biasa di setiap harinya. Eyang sangat rajin beribadah, sholat 5 waktu, dan tak lupa untuk menjalankan puasa Sunnah setiap hari Senin dan Kamis. Eyang sangat-sangat tapi dan apik, segala sesuatu dicatat dan diberi tanda, sehingga eyang akan ingat selalu. Pernah saya melihat, di belakang kulkas atau mesin cuci, diberi tanda tanggal kapan kulas atau mesin cuci itu dibeli. Ya, sehingga ketika melihat tanggal itu lagi, memori-memori yang pernah ada, kembali ter-recall.

Setiap hari, Eyang mengisi harinya dengan ikut pengajian di masjid-masjid langganannya, bukan hanya masjid yang dekat dengan kostan (rumah Eyang), tetapi juga masjid-masjid lainnya. Pernah suatu kali Eyang sangat kelelahan karena satu hari penuh mengikuti pengajian, beliau bercerita, “Sebenernya cape Neng (red: panggilan Eyang untuk saya), apalagi kalau tempatnya jauh-jauh. Tapi mau bagaimana lagi, Eyang kan sudah sepuh, jadi Eyang harus tetap banyak bergerak dan berpikir, supaya ga cepat lupa”. Wejangan unik dari Eyang. Ya, tapi memang benar, daripada berdiam diri (padahal masih ada banyak hal yang bisa dikerjakan), lebih baik bergerak saja.

Ah, saya merasa beruntung bisa bertemu dan mengenal Eyang. Pasti pertemuan ini sudah digariskan oleh Yang Di Atas. Terima kasih 🙂

Tulisan ini ditulis sebagai rasa hormat dan sayang saya kepada Eyang. Eyang, semoga selalu sehat ya!

Sajak tentang Berdamai

Suatu memori atau kenangan yang membuat kita sedih, bukan untuk dilupakan, tetapi kita harus berdamai dengan memori-memori itu. 

Inilah sajak itu, sajak tentang berdamai akan memori-memori yang pernah terukir.

Ketika seseorang yang sungguh berarti dalam hatimu pergi, bukan karena sudah tidak mempunyai rasa lagi, tetapi karena keadaan yang mengharuskannya, apa yang bisa kita lakukan? 

Ketika seseorang yang selalu membuatmu tersenyum setiap kali kau mengingatnya, tidak lagi ada bersamamu saat ini, apa yang bisa kita lakukan? 

Ketika seseorang yang selalu menggenggammu dengan erat, tidak lagi kau rasakan genggamannya, apa yang bisa kita lakukan?

Ketika seseorang yang sungguh kamu sayangi, tak lagi ada di sampingmu, bukan karena dia tak lagi menyayangimu, tapi karena kita tidak bisa bersama, apa yang bisa kita lakukan? 

Ya, jawabannya adalah berdamai. Hanya itulah yang bisa kita lakukan.

Berdamai dengan segala hal mengenai seseorang itu. Berdamai akan memori-memori yang pernah ada. Berdamai, bukan melupakan. Berdamai, bukan menghapus. Berdamai, bukan membenci. Berdamai, ya, berdamai itu merelakan.

Mungkin tidak akan mudah untuk berdamai, butuh waktu. Butuh waktu yang tidak sebentar. Bisa satu bulan, setengah tahun, satu tahun, atau lebih dari itu.

Dan karenanya, aku akan berdamai hingga batas waktu yang tidak ditentukan. 

Itulah sebuah sajak tentang berdamai.

Agustus 2016