Agustus 2016

Bulan Agustus selalu menjadi bulan favorit saya, selalu menjadi bulan yang istimewa bagi saya. Ya, akan selalu.🙂

Mengapa demikian? Karena di bulan inilah, selalu bertambah umur saya. Saya pun selalu bersyukur karena dikelilingi teman-teman yang begitu peduli dan sangat menyayangi saya.

Sabtu kedua di bulan Agustus ini, menjadi momen yang tak pernah saya duga sebelumnya. Saya ‘dikerjai’ oleh teman-teman di KI Cirebon #2, ya pada saat itu adalah briefing KI Cirebon #2 (kegiatan kerelawanan). Tiba-tiba semua yang hadir pada briefing itu menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dan di belakang saya ternyata sudah ada kue ulang tahun. Saya terharu, karena ternyata kepanitiaan ini mempertemukan kami untuk menjadi keluarga KI Cirebon #2, dan saling peduli satu sama lain.


Ya, dari KI kami banyak belajar, salah satunya adalah mengenai rasa kekeluargaan🙂

24+1

Apa yang membedakan diri kita di setiap tahunnya? Apakah dengan bertambahnya umur kita maka sikap kita juga sudah menjadi lebih baik? Sudahkah hidup yang sedang kita jalani ini memberikan makna untuk orang lain? 

Ya, pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya kita resapi dan refleksikan. 

Tahun lalu, saya sedang berada di belahan Indonesia, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, Majene, Sulawesi Barat, dan merayakan hari ini dengan sederhana bersama teman-teman.


Satu tahun disana, berinteraksi dengan siswa, guru, kepala sekolah, masyarakat, mempunyai keluarga angkat, teman-teman baru, saya mendapatkan banyak pengalaman hidup yang tidak terlupakan. 

Belajar bersyukur, belajar memahami segala hal dengan ‘rasa’, belajar menjadi diri sendiri, belajar lebih menghargai, dan belajar-belajar pengalaman hidup yang lainnya yang sulit untuk disebutkan satu persatu.

Harapan saya, semoga dengan 24+1 ini, bisa menjadi lebih bermanfaat bagi sekitar dan bisa lebih memaknai hidup dengan baik.🙂

Perjalanan hidup masih panjang!😀

Diketik di kereta api menuju kampung halaman, 12 Agustus 2016, pukul 18.00

Padamu Jua – Amir Hamzah

Puisi Padamu Jua karya Amir Hamzah termasuk dalam salah satu puisi yang saya sukai. Hari Rabu kemarin dibacakan oleh Mba Sekar Sari pada sesi NLIGHT (sejenis leadership talk) di tempat saya bekerja. Pembacaan yang sederhana, namun mengena di hati.

Jika tidak salah menginterpretasikan, kalau boleh berpendapat, hehe, menurut saya, puisi ini mengenai kerinduan seseorang akan kekasihnya. Rindu akan rasa yang biasa menyelimutinya dan rindu akan melihat rupa kekasihnya. Atau ada yang berpendapat lain?😀

Berikut lirik puisinya:

PADAMU JUA

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kendi kemerlap
Pelita jendela di malamgelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia, selalu

Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Dimana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa darah dibalik tirai

Kasihku sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku

Mengolah Rasa

Sebenarnya, apa itu rasa? Ya, sedikit refleksi, minggu ini bisa dibilang adalah minggu ‘rasa’. Terus menerus diingatkan kembali akan artinya ‘rasa’, akan pentingnya ‘rasa’ dalam segala hal yang kita lakukan. Hehe rasa disini bisa dibilang seperti rasa suka, sayang, atau yang lainnya. Tapi yang terpenting adalah bagaimana rasa-rasa itu benar-benar dimaknai seutuhnya.

Mengapa saya bilang sebagai minggu ‘rasa’? Karena ada saja yang berhubungan dengan ‘rasa’ itu sendiri. Yang pertama yaitu dari sesi NLIGHT (sejenis leadership talk) bulan ini di tempat saya bekerja. Yang kedua adalah dari acara halal bi halal di tempat saya bekerja juga.

Setiap bulannya di tempat saya bekerja, selalu ada sesi NLIGHT yang menghadirkan para pembicara yang sangat inspiratif. Pembicara yang dihadirkan berasal dari berbagai macam latar belakang profesi dan memiliki pandangan-pandangan yang sangat menarik. Sesi bulan ini mengundang Mba Sekar Sari. Di sesi Mba Sekar, saya belajar mengenai ‘rasa’ yang bahwa ‘rasa’ itu sungguh penting bagi kita dalam menjalani hidup ini. Dengan ‘rasa’, kita dapat melakukan segala hal dengan seutuhnya dan ikhlas.

Acara halal bi halal di tempat saya bekerja juga sungguh unik, dikemas dalam suatu acara setengah hari dimana ada perlombaan-perlombaan, kegiatan salam-salaman, dan makan bersama. Pada acara halal bi halal kali ini dihadirkan sebuah ceramah singkat yang pengisinya adalah juga sesama karyawan di tempat kerja. Pada ceramah singkat itu, dijelaskan bahwa ada 3 hal yang perlu kita siapkan ketika kita mau beraktivitas (bekerja): (1) raga; (2) pikiran; dan (3) hati. Ketika ketiga hal tersebut sudah siap, maka aktivitas kita akan terpenuhi seutuhnya. Raga kita siap untuk melakukan aktivitas, pikiran kita juga siap, dan hati kita seutuhnya tercurahkan untuk aktivitas tersebut.

Menurut saya, dalam hidup ini, perlulah bagi kita untuk mengolah dan menggunakan rasa itu. Mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar sekalipun. Sebagai contoh, ketika ada seseorang yang sedang berbicara dengan kita. Apa yang seharusnya kita lakukan? Kita semua pasti tahu jawabannya, mendengarkan. Tetapi ketika mendengarkan itu, apakah sebenarnya yang seharusnya kita lakukan? Apa makna dari mendengarkan itu sendiri? Kita seharusnya mencurahkan sepenuhnya raga, pikiran, dan hati kita untuk mendengarkan orang yang berbicara kepada kita. Satu elemen saja kurang, maka pembicaraan menjadi kurang bermakna. Dengan menggunakan ‘rasa’ kita akan bisa dengan sungguh-sungguh mendengarkan orang yang sedang berbicara dengan kita, tidak hanya asal-asalan mendengarkan dengan setengah hati atau dalam kata lain, tidak memberikan perhatian sepenuhnya. Ya, itulah fungsi dari rasa, memberikan makna dalam segala hal yang kita lakukan, sekecil apapun.

Selain itu pula, ketika menggunakan rasa, kita akan melakukan suatu hal dengan sungguh-sungguh dan bisa menjadi diri sendiri, tidak berpura-pura untuk menjadi orang lain, karena memang kita menggunakan ‘rasa’ dan hati kita dengan sebaik-baiknya. Yuk mari kita sama-sama belajar mengolah ‘rasa’ dan menggunakannya dalam segala sesuatu yang kita jalani.🙂