Main Air di Snowbay TMII

Bulan Agustus lalu, saya dan teman-teman saya pergi ke Snowbay TMII, karena kami sudah lama tidak main air. Akhirnya kami mencari tiket masuk diskonan di website lakupon, lumayan, harganya diskon sekitar 60%-an (harga asli 180.000).

Kami janjian untuk sampai di Snowbay sekitar jam 9 pagi. Alhasil, karena perjalanan akan cukup panjang, sekitar pukul 07.30, saya sudah berangkat dari kostan saya yang terletak di daerah Jakarta Timur. Transportasi yang saya gunakan adalah busway, karena setelah googling-googling, ternyata memang busway-lah transportasi mudah dari sini yang bisa mencapai TMII dengan mudah, saya turun di halte Busway Garuda Tamini. Dari halte busway ada 2 cara yang bisa kita pilih untuk menuju pintu masuk TMII yaitu naik angkot warna merah atau jalan kaki.

Waktu itu saya memutuskan untuk naik angkot (dengan membayar 3000 rupiah saja) karena belum tahu arah jika jalan kaki. Nanti jika saya ke TMII lagi, saya akan coba untuk jalan kaki dari halte busway ke pintu masuk TMII.

Saya sampai di TMII sekitar pukul 08.30an dan teman-teman saya belum ada yang datang. Saya langsung menuju Snowbay, dan memang Snowbay-nya juga belum buka, baru buka jam 09.00. Saya menunggu teman-teman saya di pintu masuk Snowbay bersama dengan para pengunjung Snowbay lainnya.

Snowbay

Snowbay

Baca lebih lanjut

Iklan

Secuplik Cerita dari Negeri Laskar Pelangi: Part 2

Investment in travel is an investment in yourself. –Matthew Karsten-

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Selama saya di Belitung, banyak hal yang saya amati termasuk pemandangan alam dan tempat wisata di sana.

Dari pembicaraan saya dengan om teman saya yang tinggal di Belitung, Pulang Belitung dibagi ke dalam 2 Kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Kabupaten Belitung Timur merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Belitung itu sendiri. Tempat Kelas Inspirasi Belitung #1 kemarin, yaitu di Kecamatan Membalong, yang jika kita lihat di peta, ada di bagian selatan Pulau Belitung.

Hal pertama yang saya sadari ketika tiba di Pulau Belitung adalah bandaranya yang sangat sederhana, landasan pesawat yang tidak terlalu luas, dan ruang tunggu yang akan menjadi sangat ramai jika ada 2 penerbangan datang sekaligus.

Bandara Hanandjoedin - Sederhana

Bandara Hanandjoedin

Setelah selesai pelaksanaan Kelas Inspirasi di Hari Sabtu (22 April 2017), saya memutuskan untuk menginap satu malam lagi di Desa Tanjung Rusa, Membalong, tepatnya di rumah Kak Sri yang menjadi fasilitator kelompok saya dan merupakan anak dari kepala sekolah dari SDN 17 Tanjung Rusa. Yang artinya, saya menginap di rumah kepala sekolah. Dari tempat refleksi KI, perjalanan panjang untuk ke Desa Tanjung Rusa kami tempuh dengan mengendarai motor. Dari Desa Padang Kandis, kami berangkat sekitar pukul 17.30, dan sampai di rumah kepala sekolah sekitar pukul 18.15.

Sesampainya di rumah, kami langsung disambut oleh ibu kepala sekolah dan sajian makan malam, termasuk ketam di dalamnya. Di sinilah untuk pertama kalinya saya mencoba makan ketam, sulit untuk membukanya, tetapi rasanya enak.

Keesokan paginya, kami berencana untuk jalan-jalan mengelilingi Belitung. Kami janjian dengan teman kelompok KI yang lainnya yang sudah jalan duluan jalan ke Tanjung Pandan tadi malam. Saya dan Kak Sri, beserta Kak Wela dan Kak Pandu, beriringan naik motor dari Desa Tanjung Rusa ke Tanjung Pandan. Seperti nostalgia, perjalanan dari desa ke ibukota seperti perjalanan saya dari Ulumanda menuju Kabupaten Majene sewaktu penempatan dulu. Jarak yang kami tempuh pun hamper mirip, dengan kecepatan kurang lebih 80km/jam, sekitar satu jam kami sudah sampai di Tanjung Pandan. Banyak daerah yang kami lewati, yang saya ingat ada Simpang Rusa, Bantan, Cerucuk – Badau, dan Perawas. Perjalanan kami di motor, dihiasi dengan pemandangan langit biru dan awan putih, serta kebun sawit yang hijau.

Nama daerah di Belitung banyak menggunakan kata ‘Tanjung’ atau orang disini menyebutnya ‘Tanjong’, yang artinya semenanjung. Baca lebih lanjut

Secuplik Cerita dari Negeri Laskar Pelangi: Part 1

Salah satu tempat yang ingin saya kunjungi adalah Pulau Belitung, dan akhirnya di Bulan April 2017 kemarin saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di Pulau Belitung. Saya kagum bukan hanya pada kekayaan alamnya, pemandangan yang sangat luar biasa, tetapi juga pada budaya, masyarakat, bahasa, dan makanan di sana.

Makanan yang terkenal di Belitung adalah Mie Atep dan Kopi Kongji. Pada waktu disana, saya mencoba makan mie atep di jalan Sriwijaya, Tanjung Pandan. Mie Atep ini adalah mie khas Belitung, yang memang dibuat langsung mie-nya oleh penjual disana. Bentuk mie-nya lebih besar dibandingkan dengan mie biasa, diberi kuah, udang, tahu, kentang, ketimun, cakue, dan emping. Dua kali saya makan mie atep di Belitung, yaitu selain di jalan Sriwijaya, saya juga makan mie atep di kv bahagia, Tanjung Pandan. Uniknya, mie atep di kafe ini dialasi daun simpor, daun khas Belitung. Sedangkan kopi Kongji saya tidak mencoba karena saya tidak terlalu suka kopi, tetapi kata teman saya, kopi kongji ini terasa pahitnya.

Mie Atep Belitung

Mie Atep Khas Belitung

Perjalanan saya ke Belitung memang bertujuan untuk mengikuti Kelas Inspirasi sebagai relawan pengajar. Di sekolah tempat saya melaksanakan Kelas Inspirasi, ibu kepala sekolah dengan hangatnya menyambut kami sebagai relawan dan menyediakan makanan khas Belitung untuk kami, seperti aro (ketela yang dibuat seperti nasi), lepet (seperti lemper), dan tak lupa udang dan ikan segar asli Belitung. Selain itu juga, di Belitung ini, menjadi tempat pertama kali saya memakan ketam dan belajar bagaimana membuka ketam itu untuk mengambil dagingnya. Orang-orang disana sudah sangat lihai membuka kulit ketam. Ternyata rasa ketam hampir mirip seperti ikan, dan bukan hanya itu, tekstur dagingnya pun mirip ikan.

Yang saya ingat juga kue-kue di Belitung, atau jaja sebutannya dalam Bahasa Belitung. Sempat saya mencoba kue rintak (yang berbentuk seperti bunga), kue semprit (yang berwarna kuning), dan kue semprong (yang seperti kipas). Kue-kue ini saya dapatkan dari panitia kegiatan Kelas Inspirasi ketika menyambut kedatangan para relawan di acara Briefing Kelas Inpirasi Belitung.

Jaja Belitung

Jaja Belitung

Selain makanan, Bahasa juga menjadi hal yang menarik bagi saya. Kegiatan kelas inspirasi Belitung waktu itu diadakan di Kecamatan Membalong; yang mana katanya bahasa di Belitung beda-beda untuk setiap daerahnya walaupun memang masih satu rumpun dan ada beberapa bagian yang sama; termasuk bahasa Membalong. Logat yang terdengar dimana-mana pada waktu itu adalah logat melayu dan penyebutan huruf e selalu e pepet. Baca lebih lanjut

Merajut Mimpi Seindah Pelangi

Ini adalah kali pertamanya saya mengikuti kelas inspirasi di luar Pulau Jawa dan sangat jauh dari tempat tinggal saya. Memang sebelumnya saya pernah mengikuti Kelas Inspirasi yang bukan di Pulau Jaea, tetapi pada saat itu saya memang sedang tinggal disana. Kali ini saya mengikuti Kelas Inspirasi Belitung. Kenapa saya ikut KI ini? Selain karena saya sedang kangen untuk mengajar anak-anak di daerah, saya juga sangat tertarik dengan Belitung, yang notabene katanya adalah Negeri Laskar Pelangi.

Yang paling saya senangi jika sedang berada di daerah adalah kearifan lokalnya yang sangat sangat ‘Indonesia’; orang-orang yang sangat baik, ramah, dan suka menolong, dan semua terasa lebih pelan-tidak terburu-buru, dan terlebih lagi ditambah keindahan alam yang masih sangat asri, yang sangat berbeda dengan keadaan di perkotaan.

wp-1494738144736.

Kelas Inspirasi Belitung tahun 2017 ini merupakan kelas inspirasi Belitung yang pertama, dan diadakan di Kecamatan Membalong. Saya mendapatkan kelompok di sekolah SDN 17 Membalong Desa Tanjung Rusa, dengan kepala sekolah bernama Ibu Asnarni.

Rasanya seperti dejavu, mengulang kembali yang pernah dialami ketika penempatan dulu di Majene, Sulawesi Barat. Bertemu dengan kepala sekolah, anak-anak yang akan diajar, dan para stakeholder lainnya; pak lurah, kepala dusun, dan pemuda-pemudi karang taruna. Di malam sebelum kami akan melaksanakan kegiatan kelas inspirasi esok harinya, kami berkumpul dengan para stakeholder tersebut, saling bertukar pikiran, dan bertukar semangat positif. Mati lampu pun sempat mewarnai pertemuan itu, tapi kami tetap melanjutkan pertemuan tersebut. Baca lebih lanjut