Sebuah Novel: Athirah

Athirah adalah novel pertama yang selesai saya baca di tahun ini. Mengapa saya tertarik untuk membeli dan membaca novel ini?

Pertama, ketika saya membaca sinopsisnya di cover belakang novel ini, saya menjadi penasaran tentang perjalanan hidup seorang Athirah, yang biasa dipanggil ‘Emma’ oleh anak-anaknya. Kedua, penulisnya adalah ‘Alberthiene Endah’ yang merupakan seorang penulis biografi, dan saya pernah juga membaca novelnya yang berjudul ‘Laki-laki dari Tidore’ dan saya langsung jatuh cinta pada gaya bahasanya. Ketiga, karena judul novel ini yang sederhana.


Buku ini saya beli di bulan Oktober tahun 2016 yang lalu, tapi karena satu dan lain hal baru selesai dibaca hari ini hehe.

Ketika mulai membaca, yang membuat saya lebih tertarik lagi adalah karena setting lokasi dari cerita pada novel itu: Makassar, Pantai Losari, UMI, dan lainnya yang membuat saya kembali membayangkan lokasi-lokasi tersebut ketika saya pernah ada disana. Nostalgia rasanya. Dan saya baru tersadar bahwa yang diceritakan pada novel itu adalah ibunda dari Bapak Jusuf Kalla.

Menurut saya, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Banyak hal atau kejadian-kejadian yang dapat kita resapi dan kita ambil pelajarannya. Tentang bagaimana kita bersikap adil untuk membawa kedamaian, tentang bagaimana menjadi ikhlas dan sabar, tentang arti berjuang, dan tentang bahwa pasti ada hikmah di balik semua kejadian itu.

Sabar merupakan kunci dari kebertahanan manusia melewati guncangan-guncangan di dalam hidup

Refleksi Perjalanan di Tahun 2016

Tahun ini adalah tahun aku pulang dari penempatanku mengabdi selama satu tahun di Majene, Sulawesi Barat. Semenjak perjalananku selama satu tahun itu, aku menyadari bahwa Indonesia itu begitu luas dan sangat beragam untuk dinikmati setiap jengkal bagiannya.

Di tahun ini, saya berkeliling ke tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya atau tempat-tempat yang pernah saya kunjungi untuk menikmatinya kembali. Ya, saya berkeliling, salah satunya adalah untuk bersilaturahmi.

Perjalanan pertama di tahun 2016 ini yaitu pada bulan Februari. Saya bersama teman-teman kuliah pergi ke Medan, tepatnya ke Kabanjahe. Kabanjahe adalah tempat kelahiran salah satu teman baik kuliah saya, Ave namanya. Ya, inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di Pulau Sumatera. Di sana, kami bersilaturahmi dengan keluarga Ave. Keceriaan dan kehangatan pun menyambut kedatangan kami disana. Kami pergi mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Air Terjun Sipiso piso, Danau Toba, Bukit Gundaling, dan lainnya.

Di Bulan Maret (12-13 Maret 2016), saya pergi ke Malang dan Batu. Naik kereta selama kurang lebih sekitar 10 jam, sendirian. Perjalanan ini pun saya nikmati dengan senang hati, karena lagi-lagi tujuannya adalah silaturahmi. Ya, saya ke sana untuk bertemu teman saya, Ebi, sekaligus melihat penampilan dari anak-anak asuhan komunitas Save Street Child Malang (yang mana komunitas ini adalah komunitas teman saya itu ketika kuliah dulu). Sedikit cerita, Ebi adalah teman sepenempatan, yang bisa dibilang teman seperjuangan, waktu dulu di Majene.

Ketika itu, saya diajak berkeliling di Malang, melihat tatanan kota Malang. Yang paling saya suka adalah tatanan tamannya. Di Malang, cukup banyak taman yang nyaman yang bisa digunakan sebagai tempat untuk berkegiatan. Selain di Malang, saya juga diajak pergi ke Batu, sangat dingin di Batu. Waktu itu, saya diajak pergi ke Bukit Banyak, tempat sejuk dan tinggi dimana kita bisa melihat Kota Batu dan Malang dari atas. Perjalanan ke Malang pun menjadi perjalanan yang menarik, karena selama perjalanan di kereta, saya berkenalan dengan teman baru (yang hingga saat ini masih berkomunikasi). Mereka adalah mahasiswa UNJ jurusan seni tari yang juga sedang pulang untuk melakukan riset di kampung halamannya, Malang untuk tugas kuliah mereka.

Selanjutnya, di Bulan Mei dan November, saya pergi ke Purwakarta. Purwakarta pun menjadi salah satu tempat โ€˜bersejarahโ€™ bagi saya karena di situlah selama 2 bulan, saya mendapatkan pelatihan sebelum mengabdi selama satu tahun (bersama 51 orang lainnya). Di Purwakarta juga, saya menemukan anak-anak kecil di sekitar tempat pelatihan yang sangat suka jika diajak belajar sambil bermain, Wulan, Alif, Haikal, dan yang lainnya. Waktu itu saya ke Purwakarta karena memang sedang ada camp pelatihan intensif Pengajar Muda untuk angkatan selanjutnya. Saya datang ke sana, untuk menjadi assessor (mengisi sesi), sekaligus untuk melihat perkembangan anak-anak tersebut. Baca lebih lanjut

Agustus 2016

Bulan Agustus selalu menjadi bulan favorit saya, selalu menjadi bulan yang istimewa bagi saya. Ya, akan selalu. ๐Ÿ™‚

Mengapa demikian? Karena di bulan inilah, selalu bertambah umur saya. Saya pun selalu bersyukur karena dikelilingi teman-teman yang begitu peduli dan sangat menyayangi saya.

Sabtu kedua di bulan Agustus ini, menjadi momen yang tak pernah saya duga sebelumnya. Saya ‘dikerjai’ oleh teman-teman di KI Cirebon #2, ya pada saat itu adalah briefing KI Cirebon #2 (kegiatan kerelawanan). Tiba-tiba semua yang hadir pada briefing itu menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dan di belakang saya ternyata sudah ada kue ulang tahun. Saya terharu, karena ternyata kepanitiaan ini mempertemukan kami untuk menjadi keluarga KI Cirebon #2, dan saling peduli satu sama lain.


Ya, dari KI kami banyak belajar, salah satunya adalah mengenai rasa kekeluargaan ๐Ÿ™‚

24+1

Apa yang membedakan diri kita di setiap tahunnya? Apakah dengan bertambahnya umur kita maka sikap kita juga sudah menjadi lebih baik? Sudahkah hidup yang sedang kita jalani ini memberikan makna untuk orang lain? 

Ya, pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya kita resapi dan refleksikan. 

Tahun lalu, saya sedang berada di belahan Indonesia, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, Majene, Sulawesi Barat, dan merayakan hari ini dengan sederhana bersama teman-teman.


Satu tahun disana, berinteraksi dengan siswa, guru, kepala sekolah, masyarakat, mempunyai keluarga angkat, teman-teman baru, saya mendapatkan banyak pengalaman hidup yang tidak terlupakan. 

Belajar bersyukur, belajar memahami segala hal dengan ‘rasa’, belajar menjadi diri sendiri, belajar lebih menghargai, dan belajar-belajar pengalaman hidup yang lainnya yang sulit untuk disebutkan satu persatu.

Harapan saya, semoga dengan 24+1 ini, bisa menjadi lebih bermanfaat bagi sekitar dan bisa lebih memaknai hidup dengan baik. ๐Ÿ™‚

Perjalanan hidup masih panjang! ๐Ÿ˜€

Diketik di kereta api menuju kampung halaman, 12 Agustus 2016, pukul 18.00