Sekolah di Ujung Perbatasan

Tinggal sekitar 2 bulan lagi saya berada di daerah penempatan ini, di Kabupaten Majene. Saya ditempatkan di kecamatan Ulumanda, kecamatan yang geografisnya bisa dibilang paling menantang dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Sebelum kembali ke kampung halaman, saya dan teman saya (yang juga pengajar muda di penempatan kecamatan yang sama), berkeinginan untuk bersilaturahmi ke sekolah-sekolah yang ada di kecamatan Ulumanda.

Kami bersilaturahmi setiap minggunya ke beberapa sekolah. Kalau hari Senin, kami mengikuti juga upacara sekolah di sana. Kegiatan lainnya adalah kegiatan belajar dan bermain bersama siswa serta diskusi santai bersama kepala sekolah dan guru.

Dan akhirnya, minggu kemarin, sampailah saya di sekolah di ujung perbatasan dengan kabupaten lain. Sekolah dengan jarak paling jauh (sekitar 41 km menuju jalan poros, atau sekitar 130 km menuju pusat kabupaten) dan masih harus melewati sungai dan hutan dengan jalan setapak untuk bisa sampai disana. Tidak terbayangkan bagaimana jalanan ketika musim hujan sudah datang (beruntungnya saya dan teman saya datang ketika belum musim hujan).

 

  

Sekolah baru yang belum ada tamatan siswanya. Paling tinggi siswanya sekarang kelas 4.

Walaupun di ujung perbatasan dan akses yang masih sulit, tetapi siswa tetap semangat belajar dan guru pun semangat untuk mendidik siswanya (meskipun masih tenaga honor atau sukarela). Mereka tidak menghiraukan keterbatasan yang mereka miliki.

Dari kegiatan silaturahmi  ke sekolah-sekolah yang saya dan teman saya lakukan, saya mendapatkan banyak pelajaran. Bukan hanya tentang pendidikan di Indonesia tetapi juga tentang bagaimana memaknai hidup ini dan bagaimana lebih mencintai Indonesia lagi.

  
Apa yang dulu saya pelajari dari buku pelajaran di SD, saya melihatnya secara langsung aplikasinya di lapangan. Mulai dari Materi PLTA, sawah terasering, hutan gundul, kekeringan, krisis air bersih, teknik bercocok tanam tumpang sari, transmigrasi, masyarakat Indonesia yang ramah, gotong royong, dan peduli, alam Indonesia yang begitu kaya, serta melihat secara langsung siswa yang datang ke sekolah jauh-jauh dengan menempuh jarak yang tidak dekat dengan berjalan kaki (tak jarang banyak yang harus melewati sungai).

Ya, inilah Indonesia. This is the real Indonesia. 🙂

Iklan

Bapak Angkatku

Rura, adalah sebuah Dusun di sebuah Desa bernama Desa Sambabo, di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Ya, Rura adalah tempat dimana saya ditempatkan sebagai pengajar muda. Menjadi seorang pengajar muda, bukan hanya mengajar di sekolah tetapi kehidupan dalam bermasyarakat pun diperlukan.
Saya tinggal di sebuah rumah yang memiliki 5 (lima) orang anak, yang otomatis menjadi adik angkat saya sekarang, 3 (tiga) orang laki-laki dan 2 (dua) orang perempuan. Adik saya yang pertama laki-laki bernama Riswan (sekarang kelas 3 SMK, SMK BBS Malunda). Adik saya yang kedua, laki-laki juga, bernama Pikram (sekarang kelas 1 SMK, SMKN 4 Onang, Tubo Sendana). Adik saya yang ketiga,laki-laki lagi bernama Andrian (sekarang kelas 1 SMP, SMPN 4 Malunda). Dan 2 (dua) adik saya yang lainnya perempuan, dan kembar (dan memang disini banyak sekali anak kembar), yang bernama Nurmadina dan Nurmadini (Dina kakaknya dan Dini adiknya, sekarang keduanya kelas 2 SD). Tetapi dalam cerita ini, saya tidak menceritakan tentang adik-adikku, tetapi tentang seorang pejuang keras di keluarga angkatku disini. Ya, seorang pejuang yang tak pernah mengenal lelah dalam melakukan atau mengerjakan segala sesuatu untuk keluarga. Beliau adalah bapak angkatku.Ketika pertama kali sampai di rumah keluarga angkatku, masih kuingat jelas dibilang mamak (panggilan mamah disini), kalau bapak sedang pergi merantau ke Papua dan sekitar pertengahan bulan Januari pulang (pada saat itu saya sampai di rumah akhir bulan Desember). Akan tetapi bapak tidak kunjung pulang di bulan Januari. Bapak pulang di bulan Februari. Dan itulah saat dimana saya untuk pertama kalinya melihat bapak secara langsung (bukan dari foto). Seorang pria gagah dengan postur tubuh yang besar dan kulit tubuh yang agak berwarna hitam legam, menggambarkan bagaimana kerasnya perjuangan dan tempaan pengalaman-pengalaman yang beliau rasakan selama hidupnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kami sering bercakap-cakap. Dari percakapan itulah, saya menjadi lebih mengenal beliau. Beliau memang seorang pejuang, pejuang tangguh. Pejuang keras yang selalu semangat dan tak mengenal lelah. Sejak SD beliau sudah merantau, ke Kalimantan. Dulu, perjalanan ditempuh dengan menggunakan kapal laut. Beliau sudah banyak berkeliling kemana pun, khususnya Kalimantan dan Papua untuk merantau. Kemarin yang terakhir, bapakku merantau ke Papua, bekerja di sebuah perusahaan tambang minyak, seismic. Dari perantauannya itu, beliau mendapatkan banyak pengalaman, dan itulah yang membuat wawasan dan pengetahuan beliau cukup luas. Bukan hanya merantau, tetapi beliau juga pandai berkebun, karena memang pada dasarnya beliau dilahirkan sebagai petani atau pekebun. Baru-baru ini, beliau berencana untuk menanam padi, karena katanya harga beras mahal, daripada membeli lebih baik tanam sendiri, begitu katanya, hehe

Bapakku juga ternyata seorang humoris juga. Tak jarang beliau bercanda atau bermain dengan anak-anak yang datang ke rumahku. Satu lagi, bapakku selalu terlihat senang setiap harinya. Dan itulah yang juga membuatku tersenyum semangat setiap harinya.

Terima kasih, Pak! Sudah menjadi bapak angkatku disini 🙂

Matuttu Sappirri (Dusun Rura)

“Dari sinilah kami mendapatkan penghasilan,” kata seorang anak di dusun sambil menunjukkan buah kemiri.
Ya memang benar, hampir semua penghasilan warga di dusun berasal dari panen kemiri, selain ada juga cokelat, cengkeh, dan tanaman lainnya. 

Kebun kemiri letaknya cukup jauh dari dusun. Jika warga dusun pergi untuk mengambil kemiri, maka bisa seharian waktu yang mereka perlukan untuk sampai ke kebun dan kembali ke dusun. Perjalanan yang ditempuh pun melalui jalan yang tidak datar, adakalanya naik tetapi adakalanya juga menurun.

Pohon kemiri berbuah sekitar 1-3 bulan. Buah yang sudah masak akan jatuh dari pohonnya dan akan dikumpulkan. Proses pengolahan kemiri cukup panjang namun tidak terlalu sulit. Setelah diambil dari pohonnya, kemiri akan dijemur hingga kering. Setelah itu kemiri akan diasap di tempat yang namanya patapa’a.

 
Proses pengasapan berlangsung selama beberapa jam. Setelah cukup diasap, maka kemiri siap untuk nituttu atau dipecah kulitnya. Sebelum dipecah kulitnya, kemiri direndam dulu dengan air biasa. Itulah kurang lebih proses pengolahan kemiri hingga bisa menjadi kemiri yang siap untuk dipakai atau dijual. Kemiri yang baru diambil dari kebun, satu kilonya bisa dijual sekitar 4.000-5.000 rupiah. Sedangkan kemiri yang sudah dipecah, satu kilonya bisa dijual sekitar 15.000-20.000 rupiah.

Mengenai daya tahan, kemiri cukup tahan jika disimpan. Kemiri yang sudah diasap jika belum dipecah, bisa tahan sampai 2 tahun ketika disimpan. Setelah diasap, ada juga kemiri yang hasilnya kurang bagus, atau kemiri yang hampir busuk, kalau bahasa disininya sappirri mamea. Kemiri ini bisa dijadikan lampu-lampu, yang akan menyala ketika dibakar dan mengeluarkan minyak.  

Kalau bercerita tentang kegunaannya, bukan hanya buahnya saja yang dapat digunakan sebagai bumbu masakan, tetapi juga kulit kemiri dapat digunakan sebagai permainan tradisional anak-anak khas disini. Namanya kalacan, atau kalau di Cirebon, di daerahku disebut kuwuk untuk main bekel.

Ya, itulah kurang lebih cerita tentang kemiri, sumber penghasilan di dusunku. 🙂