Secuplik Cerita dari Negeri Laskar Pelangi: Part 1

Salah satu tempat yang ingin saya kunjungi adalah Pulau Belitung, dan akhirnya di Bulan April 2017 kemarin saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di Pulau Belitung. Saya kagum bukan hanya pada kekayaan alamnya, pemandangan yang sangat luar biasa, tetapi juga pada budaya, masyarakat, bahasa, dan makanan di sana.

Makanan yang terkenal di Belitung adalah Mie Atep dan Kopi Kongji. Pada waktu disana, saya mencoba makan mie atep di jalan Sriwijaya, Tanjung Pandan. Mie Atep ini adalah mie khas Belitung, yang memang dibuat langsung mie-nya oleh penjual disana. Bentuk mie-nya lebih besar dibandingkan dengan mie biasa, diberi kuah, udang, tahu, kentang, ketimun, cakue, dan emping. Dua kali saya makan mie atep di Belitung, yaitu selain di jalan Sriwijaya, saya juga makan mie atep di kv bahagia, Tanjung Pandan. Uniknya, mie atep di kafe ini dialasi daun simpor, daun khas Belitung. Sedangkan kopi Kongji saya tidak mencoba karena saya tidak terlalu suka kopi, tetapi kata teman saya, kopi kongji ini terasa pahitnya.

Mie Atep Belitung

Mie Atep Khas Belitung

Perjalanan saya ke Belitung memang bertujuan untuk mengikuti Kelas Inspirasi sebagai relawan pengajar. Di sekolah tempat saya melaksanakan Kelas Inspirasi, ibu kepala sekolah dengan hangatnya menyambut kami sebagai relawan dan menyediakan makanan khas Belitung untuk kami, seperti aro (ketela yang dibuat seperti nasi), lepet (seperti lemper), dan tak lupa udang dan ikan segar asli Belitung. Selain itu juga, di Belitung ini, menjadi tempat pertama kali saya memakan ketam dan belajar bagaimana membuka ketam itu untuk mengambil dagingnya. Orang-orang disana sudah sangat lihai membuka kulit ketam. Ternyata rasa ketam hampir mirip seperti ikan, dan bukan hanya itu, tekstur dagingnya pun mirip ikan.

Yang saya ingat juga kue-kue di Belitung, atau jaja sebutannya dalam Bahasa Belitung. Sempat saya mencoba kue rintak (yang berbentuk seperti bunga), kue semprit (yang berwarna kuning), dan kue semprong (yang seperti kipas). Kue-kue ini saya dapatkan dari panitia kegiatan Kelas Inspirasi ketika menyambut kedatangan para relawan di acara Briefing Kelas Inpirasi Belitung.

Jaja Belitung

Jaja Belitung

Selain makanan, Bahasa juga menjadi hal yang menarik bagi saya. Kegiatan kelas inspirasi Belitung waktu itu diadakan di Kecamatan Membalong; yang mana katanya bahasa di Belitung beda-beda untuk setiap daerahnya walaupun memang masih satu rumpun dan ada beberapa bagian yang sama; termasuk bahasa Membalong. Logat yang terdengar dimana-mana pada waktu itu adalah logat melayu dan penyebutan huruf e selalu e pepet.

Beberapa kata dalam bahasa Membalong yang saya ingat adalah: ao artinya ya, la artinya sudah, mual artinya mau, siko artinya satu, tige artinya tiga, siape name? artinya siapa nama kamu?, ikam artinya kamu (sopan), bu’bu artinya kendang yang digunakan untuk menangkap ikan di laut, Jawe artinya Jawa. Ada lagi, istilah bensin digunakan untuk bensin premium, jika ingin menyebutkan bensin yang lain, tinggal sebut langsung produknya, seperti pertalite, pertamax, atau solar.

Terkait dengan budaya, tarian selamat datang menjadi pembuka acara Briefing Kelas Inspirasi. Tarian tersebut ditarikan oleh 6 orang anak, 3 perempuan dan 3 laki-laki. Di akhir tarian, sebagai simbol selamat datang, salah seorang relawan disodorkan semangkuk beras kuning yang di dalamnya ada daun sirih. Daun sirih tersebut harus dimakan atau setidaknya digigit sedikit. Selain itu, disana pula, saya melihat drama khas Belitung, yang juga diperankan oleh anak-anak, berbalas pantun dalam Bahasa Belitung dan mendengarkan lagu dari penyanyi, ton-ton sebutannya.

Itulah sekilas cerita tentang Negeri Laskar Pelangi (part 1), akan menyusul part 2-nya. Indonesia sangat luas, sangat beragam, dan sangat indah. Ke Belitung, menambah pandangan saya mengenai kearifan lokal di Indonesia yang sangat kaya, saya juga merasakan kehangatan masyarakat lokal akan para pendatang yang bahkan sebelumnya belum mereka kenal sama sekali.

The world is a book and those who do not travel read only one page. – St. Augustine –

Merajut Mimpi Seindah Pelangi

Ini adalah kali pertamanya saya mengikuti kelas inspirasi di luar Pulau Jawa dan sangat jauh dari tempat tinggal saya. Memang sebelumnya saya pernah mengikuti Kelas Inspirasi yang bukan di Pulau Jaea, tetapi pada saat itu saya memang sedang tinggal disana. Kali ini saya mengikuti Kelas Inspirasi Belitung. Kenapa saya ikut KI ini? Selain karena saya sedang kangen untuk mengajar anak-anak di daerag, saya juga sangat tertarik dengan Belitung, yang notabene katanya adalah Negeri Laskar Pelangi.

Yang paling saya senangi jika sedang berada di daerag adalah kearifan lokalnya yang sangat sangat ‘Indonesia’; orang-orang yang sangat baik, ramah, dan suka menolong, dan semua terasa lebih pelan-tidak terburu-buru, dan terlebih lagi ditambah keindahan alam yang masih sangat asri, yang sangat berbeda dengan keadaan di perkotaan.

wp-1494738144736.

Kelas Inspirasi Belitung tahun 2017 ini merupakan kelas inspirasi Belitung yang pertama, dan diadakan di Kecamatan Membalong. Saya mendapatkan kelompok di sekolah SDN 17 Membalong Desa Tanjung Rusa, dengan kepala sekolah bernama Ibu Asnarni.

Rasanya seperti dejavu, mengulang kembali yang pernah dialami ketika penempatan dulu di Majene, Sulawesi Barat. Bertemu dengan kepala sekolah, anak-anak yang akan diajar, dan para stakeholder lainnya; pak lurah, kepala dusun, dan pemuda-pemudi karang taruna. Di malam sebelum kami akan melaksanakan kegiatan kelas inspirasi esok harinya, kami berkumpul dengan para stakeholder tersebut, saling bertukar pikiran, dan bertukar semangat positif. Mati lampu pun sempat mewarnai pertemuan itu, tapi kami tetap melanjutkan pertemuan tersebut. Baca lebih lanjut

Refleksi Perjalanan di Tahun 2016

Tahun ini adalah tahun aku pulang dari penempatanku mengabdi selama satu tahun di Majene, Sulawesi Barat. Semenjak perjalananku selama satu tahun itu, aku menyadari bahwa Indonesia itu begitu luas dan sangat beragam untuk dinikmati setiap jengkal bagiannya.

Di tahun ini, saya berkeliling ke tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya atau tempat-tempat yang pernah saya kunjungi untuk menikmatinya kembali. Ya, saya berkeliling, salah satunya adalah untuk bersilaturahmi.

Perjalanan pertama di tahun 2016 ini yaitu pada bulan Februari. Saya bersama teman-teman kuliah pergi ke Medan, tepatnya ke Kabanjahe. Kabanjahe adalah tempat kelahiran salah satu teman baik kuliah saya, Ave namanya. Ya, inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di Pulau Sumatera. Di sana, kami bersilaturahmi dengan keluarga Ave. Keceriaan dan kehangatan pun menyambut kedatangan kami disana. Kami pergi mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Air Terjun Sipiso piso, Danau Toba, Bukit Gundaling, dan lainnya.

Di Bulan Maret (12-13 Maret 2016), saya pergi ke Malang dan Batu. Naik kereta selama kurang lebih sekitar 10 jam, sendirian. Perjalanan ini pun saya nikmati dengan senang hati, karena lagi-lagi tujuannya adalah silaturahmi. Ya, saya ke sana untuk bertemu teman saya, Ebi, sekaligus melihat penampilan dari anak-anak asuhan komunitas Save Street Child Malang (yang mana komunitas ini adalah komunitas teman saya itu ketika kuliah dulu). Sedikit cerita, Ebi adalah teman sepenempatan, yang bisa dibilang teman seperjuangan, waktu dulu di Majene.

Ketika itu, saya diajak berkeliling di Malang, melihat tatanan kota Malang. Yang paling saya suka adalah tatanan tamannya. Di Malang, cukup banyak taman yang nyaman yang bisa digunakan sebagai tempat untuk berkegiatan. Selain di Malang, saya juga diajak pergi ke Batu, sangat dingin di Batu. Waktu itu, saya diajak pergi ke Bukit Banyak, tempat sejuk dan tinggi dimana kita bisa melihat Kota Batu dan Malang dari atas. Perjalanan ke Malang pun menjadi perjalanan yang menarik, karena selama perjalanan di kereta, saya berkenalan dengan teman baru (yang hingga saat ini masih berkomunikasi). Mereka adalah mahasiswa UNJ jurusan seni tari yang juga sedang pulang untuk melakukan riset di kampung halamannya, Malang untuk tugas kuliah mereka.

Selanjutnya, di Bulan Mei dan November, saya pergi ke Purwakarta. Purwakarta pun menjadi salah satu tempat ‘bersejarah’ bagi saya karena di situlah selama 2 bulan, saya mendapatkan pelatihan sebelum mengabdi selama satu tahun (bersama 51 orang lainnya). Di Purwakarta juga, saya menemukan anak-anak kecil di sekitar tempat pelatihan yang sangat suka jika diajak belajar sambil bermain, Wulan, Alif, Haikal, dan yang lainnya. Waktu itu saya ke Purwakarta karena memang sedang ada camp pelatihan intensif Pengajar Muda untuk angkatan selanjutnya. Saya datang ke sana, untuk menjadi assessor (mengisi sesi), sekaligus untuk melihat perkembangan anak-anak tersebut. Baca lebih lanjut

Kabanjahe, We’re Coming!

Tulisan yang seharusnya diposting sejak lama, hehe. Tapi baru sempat, di long weekend ini. 😀

Perjalanan pertamaku di tahun ini adalah ke Pulau Sumatera. Rencana perjalanan ini sudah disusun sejak tahun lalu, disusun dan dirancang bersama teman-teman kuliah. Kami berlima. Memang, kami berlima ini berencana untuk saling bersilaturahmi ke tempat kelahiran dari masing-masing kami, kampung halaman kami. Tahun lalu, 2 tempat kelahiran dari teman saya sudah dikunjungi, walaupun perjalanan itu tanpa saya. Dan tahun ini, kami ke Medan, Kabanjahe lebih tepatnya. Waktu perjalanan yang kami susun sebenarnya tidak lama, Sabtu pagi kami naik pesawat dari Jakarta ke Medan, dan Senin sorenya harus sudah kembali ke Jakarta karena keesokan harinya sudah  harus bekerja kembali ke kantor (teman-temanku yang sudah mulai kerja). Kebetulan waktu itu Hari Senin tanggal merah, libur Imlek (8 Februari).

Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Sumatera, salah satu dari lima pulau terbesar di Indonesia. Jadi teringat dulu ketika belajar bersama anak-anak di penempatan tentang 5 pulau terbesar di Indonesia. 😀

Sabtu pagi, kami naik pesawat dari Bandara Udara Soekarno-Hatta, dan sampai di Bandara Udara Kualanamu-Medan sekitar jam 9an. Bandara Kualanamu, adalah bandara udara baru di Medan, yang sebelumnya adalah Bandara Udara Polonia. Konon katanya, Bandara Polonia dipindahkan ke Bandara Kualanamu karena Bandara Polonia terdapat di tengah kota. Kesan pertama di Bandara Kualanamu, bagus, bersih, rapi, dan indah.

Dari bandara, kami mencari tempat makan siang yang searah ke rumah teman kami (Kabanjahe). Setelah makan siang, kami ke tempat yang bernama Penatapan Dolu dan Lau Dolu. Lau disini artinya sungai. Penatapan Dolu dan Lau Dolu adalah 2 tempat yang berbeda. Di Penatapan Dolu, dimana kita bisa ‘menatap’ atau melihat kota Medan dari atas. Tidak jauh dari situ, ada Lau Dolu, dimana kita bisa melihat pohon-pohon hijau tinggi menjulang, yang mana di bawahnya terdapat sungai.

Masih di hari yang sama, kami pergi ke suatu bukit, yang bernama Bukit Gundaling. Suhu disana sangat dingin, dan kebetulan waktu itu sedang hujan rintik-rintik, jadi suasana leih dingin lagi. Untuk sampai ke Bukit Gundaling, kita bisa berjalan kaki untuk sampai ke atas, atau menaiki kendaraan baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Saya dan teman-teman berjalan kaki untuk sampai ke atas.

Sampailah kami di atas, dan kami pun beristirahat di sebuah warung. Kami sudah berada di atas, ya di atas, kami pun bisa melihat penampakan kota Medan dan sekitarnya dari atas Bukit tersebut. Indah. Sambil menunggu hujan, kami pun memesan makanan dan minuman untuk menghangatkan tubuh kami. Mie rebus! haha enak dimakan ketika suasan dingin seperti ini.

Dari Bukit Gundaling, waktu sudah hampir malam, kami pun melanjutkan arah perjalanan ke Kabanjahe. Akan tetapi sebelum pulang ke Kabanjahe (rumah teman saya), kami pergi ke pemandian air panas dulu. Pemandian air panas yang langsung terletak di lereng gunung Sibayak. Pemandian air panas itu buka hampir 24 jam karena pengunjungnya tidak pernah sedikit. Air panas nya sungguh asri, karena berasal langsung dari gunung.

Setelah selesai dari pemandian air panas, kami pun menuju rumah teman saya di Kabanjahe untuk beristirahat. Ternyata suhu udara di Kabanjahe sangat dingin (karena posisinya yang berada di atas gunung).

Keesokan harinya, atau lebih tepatnya hari Minggu. Kami pergu menuju air terjun sipiso piso. Di perjalanan menuju air terjun tersebut pun cuaca sudah agak mendung dan gerimis. Maka kami pun memutuskan untuk membeli jas hujan, untuk mempermudah perjalanan kami ke air terjun sipiso piso. Mengapa harus membeli jas hujan? Karena untuk mencapai air terjun sipiso piso, kita semua harus berjalan kaki, menuruni dan menaiki banyak anak tangga, dan jika kondisi hujan (gerimis), akan sangat sulit jika tidak menggunakan jas hujan.

air terjun sipiso piso

Air Terjun Sipiso Piso

Dan ternyata benar, sampai di lokasi dekat air terjun, kondisi hujan gerimis. Tapi hujan itu tidak mengurungkan niat kami untuk mencapai tempat air terjun tersebut. Kami pun berjalan sambil menggunakan jas hujan yang sudah kami beli. Sepintas kami terlihat seperti pasukan power ranger jas hujan, haha, karena jas hujan kami berwarna-warni dan orang-orang pun aneh melihat kami. Sesampainya di air terjun, ya betapa indahnya air terjun itu, betapa besar ciptaan Tuhan. 🙂 Baca lebih lanjut