Merajut Mimpi Seindah Pelangi

Ini adalah kali pertamanya saya mengikuti kelas inspirasi di luar Pulau Jawa dan sangat jauh dari tempat tinggal saya. Memang sebelumnya saya pernah mengikuti Kelas Inspirasi yang bukan di Pulau Jaea, tetapi pada saat itu saya memang sedang tinggal disana. Kali ini saya mengikuti Kelas Inspirasi Belitung. Kenapa saya ikut KI ini? Selain karena saya sedang kangen untuk mengajar anak-anak di daerag, saya juga sangat tertarik dengan Belitung, yang notabene katanya adalah Negeri Laskar Pelangi.

Yang paling saya senangi jika sedang berada di daerag adalah kearifan lokalnya yang sangat sangat ‘Indonesia’; orang-orang yang sangat baik, ramah, dan suka menolong, dan semua terasa lebih pelan-tidak terburu-buru, dan terlebih lagi ditambah keindahan alam yang masih sangat asri, yang sangat berbeda dengan keadaan di perkotaan.

wp-1494738144736.

Kelas Inspirasi Belitung tahun 2017 ini merupakan kelas inspirasi Belitung yang pertama, dan diadakan di Kecamatan Membalong. Saya mendapatkan kelompok di sekolah SDN 17 Membalong Desa Tanjung Rusa, dengan kepala sekolah bernama Ibu Asnarni.

Rasanya seperti dejavu, mengulang kembali yang pernah dialami ketika penempatan dulu di Majene, Sulawesi Barat. Bertemu dengan kepala sekolah, anak-anak yang akan diajar, dan para stakeholder lainnya; pak lurah, kepala dusun, dan pemuda-pemudi karang taruna. Di malam sebelum kami akan melaksanakan kegiatan kelas inspirasi esok harinya, kami berkumpul dengan para stakeholder tersebut, saling bertukar pikiran, dan bertukar semangat positif. Mati lampu pun sempat mewarnai pertemuan itu, tapi kami tetap melanjutkan pertemuan tersebut. Baca lebih lanjut

Refleksi Perjalanan di Tahun 2016

Tahun ini adalah tahun aku pulang dari penempatanku mengabdi selama satu tahun di Majene, Sulawesi Barat. Semenjak perjalananku selama satu tahun itu, aku menyadari bahwa Indonesia itu begitu luas dan sangat beragam untuk dinikmati setiap jengkal bagiannya.

Di tahun ini, saya berkeliling ke tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya atau tempat-tempat yang pernah saya kunjungi untuk menikmatinya kembali. Ya, saya berkeliling, salah satunya adalah untuk bersilaturahmi.

Perjalanan pertama di tahun 2016 ini yaitu pada bulan Februari. Saya bersama teman-teman kuliah pergi ke Medan, tepatnya ke Kabanjahe. Kabanjahe adalah tempat kelahiran salah satu teman baik kuliah saya, Ave namanya. Ya, inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di Pulau Sumatera. Di sana, kami bersilaturahmi dengan keluarga Ave. Keceriaan dan kehangatan pun menyambut kedatangan kami disana. Kami pergi mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Air Terjun Sipiso piso, Danau Toba, Bukit Gundaling, dan lainnya.

Di Bulan Maret (12-13 Maret 2016), saya pergi ke Malang dan Batu. Naik kereta selama kurang lebih sekitar 10 jam, sendirian. Perjalanan ini pun saya nikmati dengan senang hati, karena lagi-lagi tujuannya adalah silaturahmi. Ya, saya ke sana untuk bertemu teman saya, Ebi, sekaligus melihat penampilan dari anak-anak asuhan komunitas Save Street Child Malang (yang mana komunitas ini adalah komunitas teman saya itu ketika kuliah dulu). Sedikit cerita, Ebi adalah teman sepenempatan, yang bisa dibilang teman seperjuangan, waktu dulu di Majene.

Ketika itu, saya diajak berkeliling di Malang, melihat tatanan kota Malang. Yang paling saya suka adalah tatanan tamannya. Di Malang, cukup banyak taman yang nyaman yang bisa digunakan sebagai tempat untuk berkegiatan. Selain di Malang, saya juga diajak pergi ke Batu, sangat dingin di Batu. Waktu itu, saya diajak pergi ke Bukit Banyak, tempat sejuk dan tinggi dimana kita bisa melihat Kota Batu dan Malang dari atas. Perjalanan ke Malang pun menjadi perjalanan yang menarik, karena selama perjalanan di kereta, saya berkenalan dengan teman baru (yang hingga saat ini masih berkomunikasi). Mereka adalah mahasiswa UNJ jurusan seni tari yang juga sedang pulang untuk melakukan riset di kampung halamannya, Malang untuk tugas kuliah mereka.

Selanjutnya, di Bulan Mei dan November, saya pergi ke Purwakarta. Purwakarta pun menjadi salah satu tempat ‘bersejarah’ bagi saya karena di situlah selama 2 bulan, saya mendapatkan pelatihan sebelum mengabdi selama satu tahun (bersama 51 orang lainnya). Di Purwakarta juga, saya menemukan anak-anak kecil di sekitar tempat pelatihan yang sangat suka jika diajak belajar sambil bermain, Wulan, Alif, Haikal, dan yang lainnya. Waktu itu saya ke Purwakarta karena memang sedang ada camp pelatihan intensif Pengajar Muda untuk angkatan selanjutnya. Saya datang ke sana, untuk menjadi assessor (mengisi sesi), sekaligus untuk melihat perkembangan anak-anak tersebut. Baca lebih lanjut

Kabanjahe, We’re Coming!

Tulisan yang seharusnya diposting sejak lama, hehe. Tapi baru sempat, di long weekend ini. 😀

Perjalanan pertamaku di tahun ini adalah ke Pulau Sumatera. Rencana perjalanan ini sudah disusun sejak tahun lalu, disusun dan dirancang bersama teman-teman kuliah. Kami berlima. Memang, kami berlima ini berencana untuk saling bersilaturahmi ke tempat kelahiran dari masing-masing kami, kampung halaman kami. Tahun lalu, 2 tempat kelahiran dari teman saya sudah dikunjungi, walaupun perjalanan itu tanpa saya. Dan tahun ini, kami ke Medan, Kabanjahe lebih tepatnya. Waktu perjalanan yang kami susun sebenarnya tidak lama, Sabtu pagi kami naik pesawat dari Jakarta ke Medan, dan Senin sorenya harus sudah kembali ke Jakarta karena keesokan harinya sudah  harus bekerja kembali ke kantor (teman-temanku yang sudah mulai kerja). Kebetulan waktu itu Hari Senin tanggal merah, libur Imlek (8 Februari).

Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Sumatera, salah satu dari lima pulau terbesar di Indonesia. Jadi teringat dulu ketika belajar bersama anak-anak di penempatan tentang 5 pulau terbesar di Indonesia. 😀

Sabtu pagi, kami naik pesawat dari Bandara Udara Soekarno-Hatta, dan sampai di Bandara Udara Kualanamu-Medan sekitar jam 9an. Bandara Kualanamu, adalah bandara udara baru di Medan, yang sebelumnya adalah Bandara Udara Polonia. Konon katanya, Bandara Polonia dipindahkan ke Bandara Kualanamu karena Bandara Polonia terdapat di tengah kota. Kesan pertama di Bandara Kualanamu, bagus, bersih, rapi, dan indah.

Dari bandara, kami mencari tempat makan siang yang searah ke rumah teman kami (Kabanjahe). Setelah makan siang, kami ke tempat yang bernama Penatapan Dolu dan Lau Dolu. Lau disini artinya sungai. Penatapan Dolu dan Lau Dolu adalah 2 tempat yang berbeda. Di Penatapan Dolu, dimana kita bisa ‘menatap’ atau melihat kota Medan dari atas. Tidak jauh dari situ, ada Lau Dolu, dimana kita bisa melihat pohon-pohon hijau tinggi menjulang, yang mana di bawahnya terdapat sungai.

Masih di hari yang sama, kami pergi ke suatu bukit, yang bernama Bukit Gundaling. Suhu disana sangat dingin, dan kebetulan waktu itu sedang hujan rintik-rintik, jadi suasana leih dingin lagi. Untuk sampai ke Bukit Gundaling, kita bisa berjalan kaki untuk sampai ke atas, atau menaiki kendaraan baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Saya dan teman-teman berjalan kaki untuk sampai ke atas.

Sampailah kami di atas, dan kami pun beristirahat di sebuah warung. Kami sudah berada di atas, ya di atas, kami pun bisa melihat penampakan kota Medan dan sekitarnya dari atas Bukit tersebut. Indah. Sambil menunggu hujan, kami pun memesan makanan dan minuman untuk menghangatkan tubuh kami. Mie rebus! haha enak dimakan ketika suasan dingin seperti ini.

Dari Bukit Gundaling, waktu sudah hampir malam, kami pun melanjutkan arah perjalanan ke Kabanjahe. Akan tetapi sebelum pulang ke Kabanjahe (rumah teman saya), kami pergi ke pemandian air panas dulu. Pemandian air panas yang langsung terletak di lereng gunung Sibayak. Pemandian air panas itu buka hampir 24 jam karena pengunjungnya tidak pernah sedikit. Air panas nya sungguh asri, karena berasal langsung dari gunung.

Setelah selesai dari pemandian air panas, kami pun menuju rumah teman saya di Kabanjahe untuk beristirahat. Ternyata suhu udara di Kabanjahe sangat dingin (karena posisinya yang berada di atas gunung).

Keesokan harinya, atau lebih tepatnya hari Minggu. Kami pergu menuju air terjun sipiso piso. Di perjalanan menuju air terjun tersebut pun cuaca sudah agak mendung dan gerimis. Maka kami pun memutuskan untuk membeli jas hujan, untuk mempermudah perjalanan kami ke air terjun sipiso piso. Mengapa harus membeli jas hujan? Karena untuk mencapai air terjun sipiso piso, kita semua harus berjalan kaki, menuruni dan menaiki banyak anak tangga, dan jika kondisi hujan (gerimis), akan sangat sulit jika tidak menggunakan jas hujan.

air terjun sipiso piso

Air Terjun Sipiso Piso

Dan ternyata benar, sampai di lokasi dekat air terjun, kondisi hujan gerimis. Tapi hujan itu tidak mengurungkan niat kami untuk mencapai tempat air terjun tersebut. Kami pun berjalan sambil menggunakan jas hujan yang sudah kami beli. Sepintas kami terlihat seperti pasukan power ranger jas hujan, haha, karena jas hujan kami berwarna-warni dan orang-orang pun aneh melihat kami. Sesampainya di air terjun, ya betapa indahnya air terjun itu, betapa besar ciptaan Tuhan. 🙂 Baca lebih lanjut

Kunjungan ke Yohanes Surya Institute

“tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya tidak mendapatkan kesempatan”

Itulah yang menjadi dasar Pak Yo (sebutan Pak Yohanes Surya) dalam menjalankan semua pengabdiannya selama ini. Senin kemarin, tepatnya tanggal 25 Juli 2011, saya ikut dalam kunjungan UISDP (pelatihan kepemimpinan di UI) ke Yohanes Surya Institute, pada presentasinya Pak Yo menyampaikan mengenai “antara khasanah ilmu, idealisme, dan pengabdian“. Maksudnya adalah ketika seseorang mempunyai ilmu yang mumpuni, sudah sepatutnya kita menyebarkan dan menggunakan ilmu tersebut untuk mengabdi, dalam hal ini mengabdi pada bangsa Indonesia.

Ya, tidak ada anak yang bodoh, seperti yang dikatakan Pak Yo. Semua anak di muka bumi ini pasti pintar karena pada dasarnya otak manusia itu sama, terbentuk dari bahan yang sama, dianugerahkan oleh Tuhan.

Sudah banyak prestasi Pak Yo yang cukup menginspirasi dan membanggakan Indonesia, mulai dari membina para pejuang di Olimpiade Fisika hingga sekarang beliau membangun sebuah institute yang bernama Surya Institute yang bekerja sama dengan pemda Papua dan lain-lain. Institute ini didirikan dengan maksud melakukan reformasi atau perubahan dalam pembelajaran matematika dan sains di Indonesia, ingin menghilangkan rasa ‘takut’ akan matematika yang selama ini membayang-bayangi anak bangsa.

Selain presentasi yang diberikan oleh Pak Yo, kami juga diajak untuk keliling Surya Institute dan melihat kelas-kelas yang sedang belajar. Pertama kami memasuki kelas robotic, di dalamnya terdapat anak-anak yang umurnya sekitar 10 tahun sedang belajar robotic. Yang mengagumkan adalah mereka sudah dapat merakit robot dan ngoding (menggunakan AVR, padahal saya kenal AVR saja ketika kuliah). Selanjutnya, kami diajak masuk ke kelas pendidikan guru, yang mana keluaran dari kelas ini adalah untuk menjadi guru. Yang terakhir, kami memasuki kelas matrikulasi, yang dikhususkan untuk anak-anak yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi (mempersiapkan untuk SNMPTN dan ujian-ujian lainnya).

Banyak yang bisa saya dapatkan setelah kunjungan ke Surya Institute. I’m burning!! Keinginan saya untuk mengajar menjadi semakin besar, apalagi matematika. Intinya adalah:

“ketika kita sudah menemukan passion kita, kita harus fokus agar dapat menghasilkan ouput yang memuaskan. Namun satu hal, kita tidak boleh terlena dengan segala sesuatu yang telah kita peroleh. Kita harus dapat menyebarluaskan dan membagikan apa yang telah kita dapatkan. Tebarkan manfaat sebanyak-banyaknya!!”