Merajut Mimpi Seindah Pelangi

Ini adalah kali pertamanya saya mengikuti kelas inspirasi di luar Pulau Jawa dan sangat jauh dari tempat tinggal saya. Memang sebelumnya saya pernah mengikuti Kelas Inspirasi yang bukan di Pulau Jaea, tetapi pada saat itu saya memang sedang tinggal disana. Kali ini saya mengikuti Kelas Inspirasi Belitung. Kenapa saya ikut KI ini? Selain karena saya sedang kangen untuk mengajar anak-anak di daerah, saya juga sangat tertarik dengan Belitung, yang notabene katanya adalah Negeri Laskar Pelangi.

Yang paling saya senangi jika sedang berada di daerah adalah kearifan lokalnya yang sangat sangat ‘Indonesia’; orang-orang yang sangat baik, ramah, dan suka menolong, dan semua terasa lebih pelan-tidak terburu-buru, dan terlebih lagi ditambah keindahan alam yang masih sangat asri, yang sangat berbeda dengan keadaan di perkotaan.

wp-1494738144736.

Kelas Inspirasi Belitung tahun 2017 ini merupakan kelas inspirasi Belitung yang pertama, dan diadakan di Kecamatan Membalong. Saya mendapatkan kelompok di sekolah SDN 17 Membalong Desa Tanjung Rusa, dengan kepala sekolah bernama Ibu Asnarni.

Rasanya seperti dejavu, mengulang kembali yang pernah dialami ketika penempatan dulu di Majene, Sulawesi Barat. Bertemu dengan kepala sekolah, anak-anak yang akan diajar, dan para stakeholder lainnya; pak lurah, kepala dusun, dan pemuda-pemudi karang taruna. Di malam sebelum kami akan melaksanakan kegiatan kelas inspirasi esok harinya, kami berkumpul dengan para stakeholder tersebut, saling bertukar pikiran, dan bertukar semangat positif. Mati lampu pun sempat mewarnai pertemuan itu, tapi kami tetap melanjutkan pertemuan tersebut.

IMG_20170422_105525

22 April 2017, hari Sabtu, adalah hari dimana kami melaksanakan kegiatan kelas inspirasi. Hari itu dibuka dengan melakukan senam gemufamire dan senam pongpingpong (yang ini saya kurang tahu judulnya apa hehe), yang dipimpin oleh murid sekolah disana. Rasa senang langsung membucah di pagi itu, melihat tawa dan senyuman anak-anak di sekolah, dan senang bisa senam bersama dengan anak-anak.

Saya mengajar di kelas 6, 4, 1, dan 2. Ya, saya melihat banyak sekali potensi siswa yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Yang paling menarik adalah ketika mengajar di kelas 4, karena saya mempunyai waktu yang lebih banyak mengajar di kelas itu. Saya mencoba memperkenalkan profesi saya sebagai business analyst di bidang IT. Di awali dengan penjelasan mengenai proses yang selalu saya lakukan setiap harinya, yang saya coba analogikan dengan cara mereka ketika mengerjakan PR matematika.

Selanjutnya saya coba mereka untuk bekerja dalam kelompok, dengan membagi mereka ke dalam 3 kelompok besar yang terdiri dari 6-7 orang per kelompok. Tugasnya adalah membuat desain bangunan yang sesuai dengan permohonan. Permohonannya adalah membuat desain bangunan yang tinggi dengan menggunakan potongan-potongan karton manila.

Tingkah dari setiap kelompok berbeda-beda. Ada kelompok yang secara tidak langsung menjadi ketua, dan mulai mencoba semua masukan dari yang lain. Ada kelompok yang semua anggotanya secara diam-diam mencoba caranya masing-masing dulu, baru setelah itu diambil cara yang menurut mereka paling bisa. Ada juga kelompok yang saling bingung apa yang mau dikerjakan terlebih dahulu. Inilah salah satu keseruan yang saya rasakan juga, memperhatikan tingkah laku anak-anak yang masih polos dan apa adanya.

Hari itu selesai sudah, ditutup dengan anak-anak menulis cita-cita di spanduk cita-cita.

IMG-20170423-WA0008

Melalui Kelas Inspirasi ini juga, saya kembali merasakan bahwa banyak orang baik yang sedang dan akan terus bekerja dengan tulus ikhlas di seluruh penjuru Indonesia, tanpa harus disebut namanya. Banyak sosok inspiratif yang saya temui. Sosok seperti Ibu Asnarni, sang kepala sekolah yang tak pernah mengenal lelah demi kemajuan sekolahnya. Sosok Sri Utami, fasilitator kelompok KI saya, yang ternyata adalah seorang guru honorer di sekolah tersebut setelah bersekolah di Pulau Jawa (Bandung, red). Saya juga dipertemukan dengan sosok Pak Ishak yang juga sangat menginspiratif. Beliau adalah perwakilan DPRD yang mempunyai pandangan yang sangat terbuka. Yang paling saya ingat dari perbincangan dengan beliau adalah “Coba perhatikan kembali lagu-lagu nasional kita, kebanyakan menyebutkan ‘bangunlah jiwanya, bangunlah badannya’, ‘jiwa raga kami’. Selalu yang disebut adalah jiwa duluan baru raga/badannya. Nah itulah yang harus selalu diterapkan dalam setiap langkah untuk membangun daerah (Indonesia, red), bahwa yang paling utama adalah membangun jiwa-nya dulu, baru kemudian membangun badannya”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s