Bapak Angkatku

Rura, adalah sebuah Dusun di sebuah Desa bernama Desa Sambabo, di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Ya, Rura adalah tempat dimana saya ditempatkan sebagai pengajar muda. Menjadi seorang pengajar muda, bukan hanya mengajar di sekolah tetapi kehidupan dalam bermasyarakat pun diperlukan.
Saya tinggal di sebuah rumah yang memiliki 5 (lima) orang anak, yang otomatis menjadi adik angkat saya sekarang, 3 (tiga) orang laki-laki dan 2 (dua) orang perempuan. Adik saya yang pertama laki-laki bernama Riswan (sekarang kelas 3 SMK, SMK BBS Malunda). Adik saya yang kedua, laki-laki juga, bernama Pikram (sekarang kelas 1 SMK, SMKN 4 Onang, Tubo Sendana). Adik saya yang ketiga,laki-laki lagi bernama Andrian (sekarang kelas 1 SMP, SMPN 4 Malunda). Dan 2 (dua) adik saya yang lainnya perempuan, dan kembar (dan memang disini banyak sekali anak kembar), yang bernama Nurmadina dan Nurmadini (Dina kakaknya dan Dini adiknya, sekarang keduanya kelas 2 SD). Tetapi dalam cerita ini, saya tidak menceritakan tentang adik-adikku, tetapi tentang seorang pejuang keras di keluarga angkatku disini. Ya, seorang pejuang yang tak pernah mengenal lelah dalam melakukan atau mengerjakan segala sesuatu untuk keluarga. Beliau adalah bapak angkatku.Ketika pertama kali sampai di rumah keluarga angkatku, masih kuingat jelas dibilang mamak (panggilan mamah disini), kalau bapak sedang pergi merantau ke Papua dan sekitar pertengahan bulan Januari pulang (pada saat itu saya sampai di rumah akhir bulan Desember). Akan tetapi bapak tidak kunjung pulang di bulan Januari. Bapak pulang di bulan Februari. Dan itulah saat dimana saya untuk pertama kalinya melihat bapak secara langsung (bukan dari foto). Seorang pria gagah dengan postur tubuh yang besar dan kulit tubuh yang agak berwarna hitam legam, menggambarkan bagaimana kerasnya perjuangan dan tempaan pengalaman-pengalaman yang beliau rasakan selama hidupnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kami sering bercakap-cakap. Dari percakapan itulah, saya menjadi lebih mengenal beliau. Beliau memang seorang pejuang, pejuang tangguh. Pejuang keras yang selalu semangat dan tak mengenal lelah. Sejak SD beliau sudah merantau, ke Kalimantan. Dulu, perjalanan ditempuh dengan menggunakan kapal laut. Beliau sudah banyak berkeliling kemana pun, khususnya Kalimantan dan Papua untuk merantau. Kemarin yang terakhir, bapakku merantau ke Papua, bekerja di sebuah perusahaan tambang minyak, seismic. Dari perantauannya itu, beliau mendapatkan banyak pengalaman, dan itulah yang membuat wawasan dan pengetahuan beliau cukup luas. Bukan hanya merantau, tetapi beliau juga pandai berkebun, karena memang pada dasarnya beliau dilahirkan sebagai petani atau pekebun. Baru-baru ini, beliau berencana untuk menanam padi, karena katanya harga beras mahal, daripada membeli lebih baik tanam sendiri, begitu katanya, hehe

Bapakku juga ternyata seorang humoris juga. Tak jarang beliau bercanda atau bermain dengan anak-anak yang datang ke rumahku. Satu lagi, bapakku selalu terlihat senang setiap harinya. Dan itulah yang juga membuatku tersenyum semangat setiap harinya.

Terima kasih, Pak! Sudah menjadi bapak angkatku disini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s