Tradisi Lebaran di Dusunku

Tak mengapa saya menceritakannya sekarang walaupun Bulan Ramadhan telah usai.šŸ™‚

Satu bulan penuh berpuasa untuk menyambut hari Lebaran. Suasana bulan puasa di dusunku terkesan hening dan tenang. Sekolah? Ya libur selama satu bulan.

Untuk menghormati yang berpuasa, aku pun ikut berpuasa selama 1 bulan. Sama-sama sahur, sama-sama berbuka.

Ketika menyambut saatnya sahur, ada kebiasaan di dusun Rura untuk membangunkan warga untuk sahur, disini disebut sahur sahur. Anak-anak dan remaja tidur di masjid, lalu bangun sekitar jam 3 pagi dan keliling dusun untuk membangunkan warga. Mereka memukul-mukul jerigen atau batang kayu atau apapun yang bisa mengeluarkan bunyi. Ya, kalau di Cirebon, daerah asalku, kebiasaan ini disebut obrok obrok. Bedanya, kalau obrok obrok sudah agak modern, menggunakan speaker atau sound system. 

Setelah sahur dan sholat subuh, ada kebiasaan jalan subuh. Ya jalan sampai ke tempat yang dinamakan gunung (padahal dusun saya letaknya di gunung juga hehe), kurang lebih 1 km dari dusun. Bersama-sama berjalan kaki, menikmati sejuknya udara subuh, indahnya langit dari gelap hingga muncul sinar matahari, dan keceriaan serta kegembiraan kebersamaan.

  
Di bulan puasa ini juga, saya merasakan bagaimana semua ibu di rumahnya masing-masing mempersiapkan makanan untuk berbuka. Mulai dari kande kande (kue-kue untuk berbuka atau kalau di Cirebon disebut ta’jil) sampai makanan beratnya. Saya pun ikut merasakan bagaimana mamak angkat saya di dusun menyiapkan makanan untuk berbuka. Tak jarang saya pun ikut membantunya.

  
Menjelang lebaran, ibu-ibu di dusun pun semakin ramai dengan kegiatan, seperti kebiasaan maroti, kebiasaan membuat kue lebaran sendiri. Berbeda dengan orang biasanya, yang kalau lebaran kuenya beli, tapi di dusun, semua kue lebarannya hasil buatan sendiri. Ada satu kue spesial yang biasa dibuat di dusun, namanya kue bimoli. Mengapa disebut kue bimoli? Ya, karena salah satu bahan dasarnya menggunakan minyak bimoli (sebut merk hahaha). Kue ini terbuat dari kacang tanah yang ditumbuk halus, dicampur dengan minyak bimoli, telur, vanili, dan tepung terigu. Lalu dibentuk lonjong dan ditaburi palm sugar di atasnya. 

Ketika hari Lebaran tiba, yang khas dari dusunku ini adalah makanan burasnya, sayur sopnya, potong ayam, dan tradisi siarah. Yang saya tahu selama ini, siarah itu tradisi mendatangi kuburan anggota keluarga yang telah tiada dan mendoakannya. Nah tapi ternyata di dusunku, keliling berkunjung ke rumah-rumah orang untuk saling meminta maaf juga disebut siarah. Dan yang pasti, ketika kita melakukan siarah, yang harus dipersiapkan adalah perut karena setiap kali kita berkunjung ke rumah orang, pasti disuguhi makanan hehe.

Satu lagi, di hari Lebaran, setelah sholat ied, di setiap rumah biasanya mengadakan baca-baca atau yang bisa kita sebut sebagai syukuran. 

Kira-kira begitulah tradisi selama bulan puasa dan lebaran di dusunku.šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s