Belajar dari Kesungguhan Hati

Pada tulisan ini saya ingin bercerita mengenai seorang anak yang bernama Maulana Aslan dan dua orang yang bersahabat baik, Udin dan Erdi. Saya sangat kagum dan tersentuh pada ketiga anak ini. Ketiga anak ini saya temui ketika saya mengikuti kegiatan kelas inspirasi (tanggal 24 April 2014 kemarin) di SDN 03 Pagi Kembangan Selatan Jakarta Barat. Maulana Aslan Aslan, itulah panggilanku padanya, seorang anak laki-laki yang baru duduk di bangku kelas 1 SD. Ketika ditanya oleh guru, “Apa cita-citamu?” dan disuruh untuk menuliskan cita-citanya itu di kertas, Aslan menjawab dengan menuliskan “Pemadam Kebakaran”. Saya memperhatikannya dari jauh. Hampir semua anak di kelas itu sudah selesai menuliskan nama dan cita-citanya di kertas. Akan tetapi, Aslan terlihat agak kesulitan. Kudekati dia, ternyata dia masih kesulitan untuk menuliskan nama dan cita-citanya itu. Terlihat di kertasnya, bertuliskan tulisan yang rangkaian hurufnya masih agak salah. Saya pun membantunya, dan terkesiap ketika yang dia tuliskan adalah “Pemadam Kebakaran”. Yang membuat saya bertanya-tanya adalah bahwa dengan senangnya Aslan menuliskan “Pemadam Kebakaran” di kertas itu sebagai cita-citanya di masa yang akan datang. Kepolosan dan keteguhan hatinya tak mengisyaratkan sedikitpun bahwa dia takut untuk menjadi seorang “Pemadam Kebakaran” yang pada dasarnya harus bekerja dengan api.

Maulana Aslan

Maulana Aslan

Entah dia mengingatku atau tidak, tapi kurasa saya akan selalu mengingat anak ini. Anak ini mengingatkanku terhadap hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk sekitar dan ketulusan hati untuk membantu orang lain. Dia malah senang dan bangga dengan cita-citanya. Ya, itulah yang membuat saya kagum, kepolosan dan kesungguhan hatinya yang tak mengenal takut sedikitpun. Apapun nanti jadinya ketika dia besar, saya harap semoga Aslan tetap dapat menjadi anak yang tulus dan memiliki kesungguhan hati untuk selalu membantu dan menolong orang lain. Persahabatan Udin dan Erdi Persahabatan dua orang anak kelas 6 SD yang sangat erat, ya persahabatan Udin dan Erdi. Hampir setiap waktu mereka di sekolah selalu dihabiskan bersama. Mereka berdua memiliki hobi yang sama, yaitu membaca. Buku yang mereka suka adalah buku cerita rakyat. Ketika saya bertanya, “Cerita apa yang paling kalian suka?”, kedua menjawab, “Cerita tentang Danau Toba”. Dan langsunglah mereka bercerita kepadaku cerita tentang Danau Toba dengan penuh semangat, tanpa ada yang terlewat, dan penuh totalitas. Mereka tahu dan paham pesan apa yang hendak disampaikan dari cerita itu. Saya bangga akan itu.🙂 Yang membuatku kagum dan terkesan kepada kedua anak ini adalah kesungguhan hati mereka akan hobinya membaca walaupun terkadang buku untuk bacaan sulit untuk didapatkan. Mereka tak menghiraukan kesulitan mereka untuk mendapatkan buku bacaan. Membaca ya membaca, sudah menjadi hobi mereka.

Udin (kiri) - Erdi (kanan)

Udin (kiri) – Erdi (kanan)

Satu lagi, karena mereka sudah kelas 6 SD, mereka bercita-cita ingin masuk SMP negeri, dan rajin belajar untuk mencapai cita-cita itu. Mereka tak ingin membuat susah orang tua mereka. Pikiran yang sederhana, namun penuh arti. Udin dan Erdi, mengajarkanku tentang arti persahabatan, kesungguhan hati dan totalitas akan suatu hal yang kita senangi, dan semangat yang tak kenal putus asa untuk mencapai mimpi. Semoga masuk sekolah negeri ya Udin dan Erdi!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s